Senin, Maret 17, 2008

Abi

Orangtua Abi terus memaksa agar anaknya bisa masuk langsung ke kelas besar. Tadinya aku agak jengah, Abi kelihatan belum bisa. Tapi karena setiap hari orangtuanya berkata “Abi sudah pinter, Bunda. Di rumah dia bisa semuanya. Sebentar lagi Abi masuk TK, jadi sudah saatnya masuk kelas besar”, ibunya sedikit memaksa. Okelah, umur Abi 3,8. Abi masuk. Sekali dua kali, Abi bengong. Oh, mungkin baru permulaan, pikirku. Sebulan, Abi jarang bisa merespon perintah dengan baik. Semua pekerjaannya selalu tertinggal, bahkan kadang ia tidak mengerjakan apapun. Orangtuanya kuberi pengertian, malah tersinggung. Abi sekolah tidak pernah diantar ibunya. Aneh. Belakangan, ibu Abi mulai datang. Tepat saat itu Abi belajar menyusun balok. Ternyata kegiatan seperti ini pun buat Abi menjadi satu kegiatan yang sangat sulit. Aku jadi resah, kemarin kupanggil orangtuanya. Hampir 3 bulan berjalan, Abi masih belum bisa mengerti perintah. Memegang gunting saja ia tak mampu. Tangannya tak kuat memegang apapun, seperti tremor. Aku bilang Abi harus banyak belajar memperkuat motorik kasarnya. Ibunya bilang, ah, Abi terlalu tegang, Bunda. Tegang kataku ? Di akhir kelas, aku ajak ibunya melihat pekerjaan Abi. Teman-temannya sudah pada pulang. Aku bilang, Abi sangat menyita banyak perhatian. Aku bilang aku tidak bisa hanya fokus pada Abi dan mengorbankan 10 anak yang lain. Aku minta pengertian ibunya. Abi harus belajar menerima dan menjalankan perintah. Abi harus banyak belajar berkomunikasi. Di usianya sekarang, Abi masih cadel. Akhirnya, syukurlah, meskipun dengan berat hati ia mengerti. Ibunya berjanji akan lebih banyak berkomunikasi dengan Abi. Aku ? tidak ada kata lain selain, Puji Tuhan ia mengerti !

Tidak ada komentar: