Kamis, Desember 01, 2011

cerpen leilla : leilla write a story 2

rintik hujan masih terasa di telapak tangan. kupandang sekeliling south bank park dengan rasa gundah. aku di sini, bu. aku berhasil. mataku nanar menahan air mata yang akan berlinang. aku begitu merindukanmu, ibu.

"sedang apa, kau?"
suara berat itu. tidak, jangan sekarang.
"bukan urusanmu."
"memang bukan, tapi kau bisa sakit hujan-hujanan begini."
sungguh aku sedang tak ingin berbicara dengannya.

"tunggu. dengarkan aku dulu."
"apa?" sial, mengapa air mata ini bisa mengalir begitu saja. aku jadi terlihat begitu bodoh di depan pram.
"kau kenapa?" tanyanya dengan wajah heran. kubalikkan badan sekuat yang kubisa. bila perlu secepat kilat aku akan menghilang dari pandangannya.
"jawab aku, mir, kau sakit?"

--

sepuluh tahun lalu aku mengenal pram lewat mita, seorang teman. tak ada yang istimewa dari dirinya. kecuali kenyataan bahwa ia begitu lembut dan bersahaja. kebanyakan rekan hormat dan segan padanya. bahkan disaat ia membuat satu kesalahan sekalipun. dimata banyak orang, pram begitu sempurna. dimataku juga, saat itu.

terus terang aku pernah begitu mencintainya. dia? aku tak tahu pasti. yang jelas kami sempat berhubungan selama lima tahun. lima tahun yang menyedihkan. orang bilang jika kau mencintai seseorang, jangan kau berikan hatimu sepenuhnya. supaya ketika orang itu menyakitimu, kau tak akan begitu terluka. aku memang pernah terluka. sangat. terlebih ketika pram lebih memilih keluarganya dibanding aku yang dianggap tak sepadan dengannya.

--

"mir, dengar aku dulu!" tangannya menarik kasar lenganku.
percuma saja menghindar, langkah kakinya terlalu lebar.
mataku lurus memandang wajahnya. dulu aku sangat mengagumi dagu itu. mata itu.
"berapa kali kukatakan padamu, jauhi dimas. dia tak cocok untukmu."
"bukan urusanmu. urus saja dirimu sendiri."
"ini urusanku juga!" pram setengah berteriak.
nada bicaranya seolah mengkhawatirkanku. mungkinkah?
"aku mengenal dimas jauh sebelum kau mengenalnya." "aku tahu seperti apa dia. jadi tolong, jauhi dia. atau kalau tidak.."
"apa? kalau tidak, apa? kau mau bilang kalau dia laki-laki brengsek, begitu? dia bajingan, begitu? lantas kau apa? kau ini apa!" entah mengapa kata-kata yang sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatiku itu meluncur begitu saja.
aku benci kamu, pram, sangat benci padamu.

pram terhenyak. genggaman tangannya melunak. bergegas aku meninggalkannya.
"kau benar, aku memang brengsek," teriaknya. "aku memang bajingan yang pernah meninggalkanmu. tapi aku bukan dimas. aku tidak seperti dimas!"

telingaku mendengar, tapi kakiku terus berjalan tanpa tujuan. hanya berjalan saja.

"jauhi dia atau kau akan terluka."
meski tak memandang wajahnya, aku tahu pram bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"dimas tak pernah sepenuhnya mencintaimu, mir. ia takkan pernah bisa mencintai seorang wanita."

mataku benar-benar basah oleh airmata.
mengapa langit selalu tak pernah adil padaku?

--

di jarak kurang lebih dua ratus meter dari situ, sepasang mata memandang dengan perasaan bersalah.

aku mencintaimu, mir.
cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya pada seorang perempuan.
maafkan masa laluku. tak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki hal itu.
tapi sungguh, aku begitu takut kehilanganmu.

dimas terpekur memandang dua sosok yang terluka.
dua sosok yang teramat dicintainya.

--

ps:
juz another my short story
terinspirasi cerita mun jae shik dan yung ha di sunkyunkwan scandal, hehee
enjoy!

Tidak ada komentar: