Kamis, Agustus 01, 2013

Kamu Dimana? (Anak dan Teknologi)

lama nggak corat-coret kangen juga..
ini karbon tulisan saya di Kompasiana..
happy reading yaa..
.

Kamu dimana?
Rumah. Kamu?
Lagi makan pentol di sekolah..
.
Itu bunyi pesan layanan SMS di handphone putra seorang teman saya. Sebenarnya isinya biasa saja. Namun yang membuatnya jadi luar biasa adalah kenyataan bahwa si pengirim dan penerima pesan SMS tersebut adalah anak-anak usia SD kelas 5. Setelah ditanya, ternyata sang putra mengaku jika ia suka dengan teman perempuannya yang cantik itu katanya.
Kecil-kecil udah SMS-an model ‘kamu dimana?’
Wah!

Dilahirkan di abad teknologi seperti ini membuat karakter anak jadi jauh berbeda dengan kita-kita yang lahir jauh sebelum gadget ada. Meski belum berkeluarga, namun saya banyak melihat bagaimana anak jaman sekarang (di lingkungan sekitar tempat saya tinggal) seperti lebih dekat dengan gadgetnya daripada bermain dengan teman sebayanya di luar rumah. Seorang anak tetangga, menurut ibunya, punya ritual khusus yang tak bisa diganggu. Setiap pulang sekolah setelah berganti baju langsung sibuk mencari laptopnya, masuk ke kamar, dan mulai bermain game bahkan chatting hingga berjam-jam. Sendirian. Dan betah. Ckckck. Di satu sisi ibunya kelihatan mengeluhkan kebiasaan ini, namun di sisi lain sang ibu merasa beruntung karena si kecil bisa diam di rumah dan tidak bermain jauh kemana-mana (lah).

Juga keponakan saya. Beberapa saat lalu kakak ipar saya mengeluhkan si kecil yang jadi gosong kulitnya karena setiap hari setelah pulang sekolah asyik bermain sepeda bersama teman-temannya keliling kampung. Sebelumnya keponakan saya juga sangat betah di rumah karena sangat terhibur dengan tablet barunya. Setelah beberapa bulan dipakai terus menerus tanpa henti, tablet akhirnya rusak. Dan ia memilih untuk bermain dan berkumpul kembali dengan teman-temannya. Saat kakak ipar saya mengeluhkan tentang kulit hitamnya, saya katakan bahwa lebih baik si kecil bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya di luar daripada tiap hari menghadap layar dan asik bermain game sendirian. Mengapa?

Menghabiskan waktu berjam-jam di depan gadget apapun menyebabkan seseorang menjadi tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Anak menjadi sangat individual. Kekurangan waktu untuk berinteraksi dengan orangtua, teman, atau sesama, bisa membuatnya sangat egois.

Namun, bukan berarti gadget adalah benda yang mati-matian harus dijauhi. Tidak. Bukan seperti itu. Melainkan sebagai orang yang lebih tua, kita dapat memberi pengertian pada anak untuk tetap mempergunakannya dengan batasan-batasan tertentu. Bukan tanpa batas. Ada saat-saat dimana mereka boleh mempergunakannya, sebaliknya juga ada saat dimana mereka harus meletakkannya dan melakukan hal lain yang lebih berguna. Pada prinsipnya anak-anak harus bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya di dunia nyata, bukan di dunia maya.

Jadi, takut putra-putri anda berkulit hitam ato gosong karena terlalu banyak main sepeda? Jangan lagi.
Salam bijak menghadapi teknologi!
.

Tidak ada komentar: