Sabtu, November 19, 2011

cerpen leilla : leilla write a story 1

hari sudah teramat larut, mus belum lagi pulang. mobilnya pun tak tampak di ujung pertokoan. sum menanti dan terus menanti. riak hatinya terasa tak keruan. benarkah yang dilihatnya tadi? sekelebat bayang mulai muncul kembali. mus.. ya Tuhan, mus kekasih hatinya, belahan jiwanya, sedang apa dia di apartemen lila?

lila.. nama yang tak asing bagi gendang telinganya. dari mus. benar, dari mus ia mendengar nama itu. mus pernah setengah mati mencintainya. sekarang bagaimana? memikirkan hal itu hanya membuat jiwanya semakin hancur. seharusnya dari dulu ia curiga. sejak kedatangan lila sebagai penghuni baru apartemen lantai sepuluh, sikap mus mulai berubah. seharusnya aku mengingat nama itu. lila, kenapa bisa lupa?

jarum jam mulai bergeser ke angka sebelas..
mus, Gusti, kemana kau, mus? mata sum mulai basah oleh airmata. dipandanginya dina putri tercinta satu-satunya dengan hati terbelah. buah cintaku, mus, cinta kita. don't do this, mus, kumohon.

tepat pukul duabelas..
bunyi gemerincing kunci di pintu depan. mus masuk tak menghiraukan sum yang dengan setia menyongsong dan membawakan tasnya.
"capek, mus."
tak menjawab mus bergegas masuk ke dalam kamar. bukan kebiasaannya.
seperti dayang yang mengantar tuannya menuju peraduan, sum menyiapkan piyama.
"kau tidur saja dulu. ada yang masih akan kukerjakan."
kalimatnya yang panjang seolah tak menghiraukan perasaannya.
sum menunduk tak mampu berkata lagi.
mus tak suka bila ia membantah.

lewat pukul tiga..
mata sum belum lagi dapat terpejam. malam begitu sunyi. pikirannya masih berjalan kesana kemari. segelas susu panas mungkin bisa membantu. sum beranjak keluar. lampu ruang kerja mus masih menyala. sedang apa kau, mus? seberat itukah pekerjaanmu? bagaimana perasaanmu sekarang? lila? masihkah kau mencintainya?

masuk, tidak, masuk, tidak..
"mus, kau mau kub..
"mus! oh tidak! muuus!!"


Epilog

beberapa petugas hilir mudik di ruang kerja mus. mata sum menerawang ke langit-langit. tangisnya tak tertahankan. beberapa kali bahkan ia pingsan. bu ratih tetangga kiri apartemen dengan iba menemaninya.
"yang tabah, sum, tabah, anakku."
tapi sama sekali kata-katanya tak membantu. sum kembali lunglai.
dipapah bu ratih dan seorang kerabat ia dibawa masuk. tubuhnya semakin lemah.

tak ada yang melihat ketika selembar kertas putih itu terjatuh dari tangan sum.
tak ada yang tau.

mus, lupakan aku. dihatiku sudah tak ada lagi dirimu.
jangan paksa aku, mus. semuanya sudah berakhir.

lila


ps :
lagi pengen nulis cerpen. kesenangan yang telah lama kutinggalkan.
enjoy!

2 komentar:

Natasha Erzsyana mengatakan...

Kata2 terakhir d kertas putih itu yg aku suka.
Kerren lul. . .

playgroup mengatakan...

hehee, thanks sudah mampir yaaaa