Jumat, Agustus 24, 2012

29/33 (the wisdom of tukang tambal ban part 2)


sehari sebelum libur lebaran saya mampir untuk mengecek roda sepeda motor. pikir saya saat hari lebaran nanti jangan-jangan semua tukang tambal ban pada mudik ke kampung halaman masing-masing. better safe than sorry.
‘eh, embak.. belum libur?’ sapa tukang tambal ban langganan saya.
‘belum, pak. terakhir. besok masih upacara.’
‘oo.. saya kira sudah libur. 29/33 ya..’
saya mengangguk, mengiyakan tekanan angin yang harus masuk di dua roda sepeda motor tercinta. depan 29. belakang 33.
‘mbak,’ tiba-tiba ia berhenti dan menatap saya, ‘ini habis diisi orang lain ya?’ tanyanya.
‘emang kenapa, pak?’ saya heran.
‘cuma megang gini aja saya tau, mbak, ini pasti sudah diisi angin sama orang lain.’  ‘tuh kan, 50/60. pasti lompat-lompat naikinnya.’
bapak itu tau betul tekanan ban yang cocok untuk motor saya. ‘pantesan. kemaren abis dipinjam temen, pak. mungkin ditambah sama dia.’
akhirnya ban saya enggak jadi dipompa. malah dikurangi tekanannya. dalam perjalanan ke kantor saya tersenyum, betapa peristiwa kecil  seperti ini bisa mengajarkan satu hal, bahwa hidup saya berada di tangan otoritas yang tepat.

kadang sebagai manusia yang sudah merasa hidup di jalur yang benar, dalam pengertian berjalan lurus nggak neko-neko, tidak berbelok ke kanan atau ke kiri, saya merasa layak  untuk menerima segala hal yang baik. namun pada kenyataannya hidup tidaklah selalu menawarkan semua hal yang demikian. orang bilang, life is like a roller coaster. kadang  di atas, namun secara tiba-tiba  juga bisa ada di bawah. saat berada di tingkatan yang paling bawah itulah biasanya saya mulai mempertanyakan dimana sang Otoritas itu berada. betapa sering saya merasa bahwa setiap hal yang buruk itu tidak seharusnya saya terima. ironis memang.

melalui berbagai peristiwa dalam kehidupan, saya menyadari bahwa setiap keadaan baik mujur ataupun malang itu semua datangnya dari Atas. dan setiap cobaan yang datang itu sesungguhnya mengajarkan saya untuk selalu mengandalkan kekuatan tanganNya, bukan tangan saya sendiri. hidup memberi juga kenyataan yang pahit supaya ketika seseorang menghadapi tekanan yang sama, saya bisa menghibur dan membantu meredakan tangisnya.

intinya, God’s goal is to make me holly, not just happy. sangat penting bagi saya untuk menyadari bahwa ada tangan tak terlihat yang melindungi. ada Otoritas tertinggi yang mengijinkan semua hal baik atau yang tidak baik itu terjadi. sehingga ketika menghadapi permasalahan yang tersulit sekalipun, saya percaya bahwa hidup saya berada dalam perlindungan tangan yang tepat. Otoritas yang tepat. dan saya tak perlu lagi merasa seperti kehilangan pengharapan karenanya. alias.. percaya saja.. semua akan indah pada waktuNya.

karbon tulisan di lapak saya @kompasiana

Tidak ada komentar: