Minggu, Agustus 19, 2012

cerpen leilla : mencintaimu seperti memeluk pohon berpaku


‘besok sudah lebaran, bas, kapan pulang?’
‘lusa. aku usahakan.’
‘lebaran ke-dua? bapak menunggumu untuk sholat Ied bersama.’
‘bilang bapak, aku tak bisa.’
‘mampir rumah eyang?’
‘mungkin tidak. waktunya terlalu sempit.’
‘baiklah. kau letih?’
‘mmm..’
‘oke, besok aku telpon.’
‘ya.’
klik.
begitu saja. pembicaraan kami terputus begitu saja. sejak bas berdinas di luar kota, komunikasi kami praktis hanya melalui telpon. ia tak mau repot dengan messenger atau email atau sms di handphonenya. bas seperti tertimbun dalam dunia kerjanya.

***

‘kubuatkan air panas ya,’ kataku menyambut bas yang baru saja memasuki rumah. ia tampak begitu letih, tak bersemangat, dan langsung membuang diri di atas tempat tidur. kulepaskan sepatu yang masih menempel di kakinya.
‘setelah mandi, kau tidurlah dulu.’ ia mengangguk. aku tak berani mengganggunya lagi. bas tak suka wanita yang membantah. di keluarganya besarnya bas adalah raja. semua orang menurut padanya. termasuk juga aku. sang menantu yang begitu patuh pada suaminya.
‘airnya sudah siap, bas.’
tanpa membalas perkataanku ia langsung menuju kamar mandi. kupunguti pakaian yang berserakan di lantai.
bib.
handphone bas bergetar.
dita.
siapa dita? aku tak pernah mendengar namanya. bas tak suka bila aku mengangkat telponnya. tapi benda itu terus saja bergetar. saat hendak kuangkat, mati.
bib. kembali.
pesan masuk.
dari dita.
tiba-tiba penglihatanku mulai samar.

***

‘sejak kapan, bas?’
ia menarik nafas. ‘tiga bulan.’
‘kau mencintainya?’
‘tak penting buatmu.’
‘bisakah kau meninggalkannya?’
‘bukan sekarang saatnya. dia hamil.’
‘kalau begitu, ceraikan aku.’
‘bicara apa kau. apa kata bapak dan ibuku? keluarga besarku?’
‘tapi aku tak bisa memberi anak buatmu. kalau perempuan itu bisa memberimu keturunan, biarkan dia yang menggantikan posisiku.’
‘tak perlu dibahas.’
‘tak perlu kau bilang? kau bahkan tak bertanya bagaimana perasaanku? aku mencintaimu, bas. pilih dia atau aku?’
‘mas.’ suara wanita di ujung sana.
‘aku repot. nanti kutelpon. jangan pernah bermimpi tentang perceraian. tak akan pernah kukabulkan.’
klik.
aku menangis sejadinya. bas takkan bisa memutuskan pilihan. dita hanyalah seorang wanita penghibur. dan aku? apa yang bisa kulakukan? seluruh keluargaku hidup dari belas kasihan keluarga besarnya. apa jadinya bila aku memilih berpisah dengannya?

mencintaimu seperti memeluk pohon berpaku, bas.. semakin kuat aku memeluknya, semakin membuatku terluka pada akhirnya..


karbon cerita dari lapak saya @kompasiana

Tidak ada komentar: