Sabtu, April 05, 2014

Nyonya Caleg: Jangan Golput, Please



‘Boleh nitip kalender, nggak?’
‘Kalender apa?’
‘Ini,’ ujar seorang teman sambil menunjukkan sebuah kalender partai yang dihiasi gambar beberapa Caleg DPR RI.
‘Siapa nih?’
‘Psst, suamiku.’
Olalaaaa.
.
Sungguh salut saya dengan teman ini. Suaminya adalah calon legislatif dari salah satu partai besar di negeri kita. Sebagai layaknya seorang istri yang berbakti kepada suami, gencar pula ia membantu melakukan promosi. Yang tak dapat saya bayangkan adalah bagaimana ibu dari tiga bocah yang masih kecil ini harus pandai membagi waktu antara mendampingi si kecil dan menemani suami untuk berdiskusi baik secara tatap muka maupun lewat jalur sosial media. Kadang saya sempat ditunjukkan beberapa argumen dalam perdebatan sengitnya di Facebook dengan beberapa orang yang mungkin kontra dengan pendapatnya. ‘Selama ini pandangan orang tentang politik itu sedemikian kotornya, meski tak sepenuhnya salah, namun ada beberapa pendapat yang keliru tentang bla bla blaaaa,’ demikian ujarnya berapi-api dalam toilet satu ketika. Saya yang sedang merapikan rambut saat itu, karena baru turun dari motor, tinggal manggut-manggut saja mendengarnya, ‘Ya...Ya...Yaa.’


Di Balik Lelaki Hebat, Ada Wanita Hebat Juga

Tak berlebihan jika kutipan ini menggambarkan bagaimana posisi teman saya itu dalam rumahtangganya sekarang. Memasuki musim kampanye seperti sekarang, ia benar-benar melakukan tugasnya mendukung suami dengan maksimal. Gas pol, kata orang. Meski berpromosi di jalurnya sendiri-sendiri, saya melihat betapa teman ini memiliki semangat juga dalam beradu argumen. Visinya jelas, tegas, dan tak plin-plan bunyinya (mungkin karena dasarnya waktu mahasiswa dia aktivis juga). Meski kadang kami mentertawakannya, karena nomor suaminya ada di posisi paling bawah dalam partainya, tapi dia cuek saja. Orang bilang (maaf) nomor buncit menunjukkan Caleg yang kere dan nggak ada duitnya, tapi justru karena itu malah membuatnya bangga.

Kalau dipikir, dia nggak ada salahnya juga. Adalah satu kebanggaan karena nama suaminya bisa muncul di permukaan meski tanpa banyak uang. Satu kali bahkan dia pernah mengeluh karena spanduk suaminya hilang dicolong orang. Padahal untuk mencetak satu gambar seukuran poster harganya bisa sampai seratus lima puluh ribuan. ‘Pesennya banyak emang?’ tanya saya. Dan dia menggeleng, ‘Manalah kami punya uang. Cuma beberapa saja. Itupun tinggal satu yang nggak dijamah orang.’ Oalah, kejamnya dunia.

Jangan Golput, Please

Mungkin kisah ini juga gambaran bagaimana posisi seorang wanita yang wajah suaminya tercetak dalam kartu surat suara. Mendekati hari ‘H’ semakin bertambah cemasnya. ‘Kalo kalah gimana?’ tanya saya. ‘Kalah menang itu suara Tuhan. Jika yang diatas sana menghendaki suamiku duduk di DPR, maka jadilah seturut kehendakNya. Jika tidak, disyukuri saja semua prosesnya. Toh hidup itu tentang bagaimana kita belajar.’ Diplomatis memang, tapi dia benar. Sebagai Caleg di nomor paling bawah, saat hari ‘H’, hanya pasrah yang dia punya. Untuk berkampanye di jalanan, blusukan, masuk radio, cetak baliho, semuanya butuh uang. Nggak gampang.

‘Banyak habisnya? Jangan sampai stress nanti kalo kalah.’ Entah mengapa sejak mendengar beberapa Caleg gagal yang menghuni rumah sakit jiwa, saya jadi ikut cemas memikirkan suaminya. ‘Gaklah. Kami gak keluar banyak uang kok. Kalo kalah ya sudah. Beruntung kami tak sampai jual-jual tanah dan hutang kemana-mana.’ Syukurlah.

Mendekati pelaksanaan Pileg minggu depan semakin memantapkan hati saya untuk tidak Golput sampai kapanpun juga. Bukan karena pesan teman tadi untuk mencoblos nomor suaminya, sebab sesungguhnya ia sangat menghargai siapapun pilihan kami teman-temannya, namun lebih karena pemikiran bahwa suara saya nanti dapat ikut andil menentukan siapa yang berkesempatan untuk memimpin negeri tercinta ini di lima tahun mendatang. Dan harapan saya bahwa negeri ini masih bisa selamat di tangan orang-orang yang benar (menurut impian saya).

Melintasi jalanan yang dipenuhi beberapa ukuran spanduk sore ini, masih jelas terngiang di telinga saat teman saya yang nyonya Caleg itu berkata, ‘Jangan Golput ya, please.’ Saya tersenyum menyentuh pundaknya. ‘Tenang saja. Tidak akan (Golput).’ Dan itu pasti jawabannya.
Selamat memilih, Indonesia!
.
#karbon tulisan saya di Kompasiana
.

Tidak ada komentar: